Zamaahsari A Ramzah

Just another WordPress.com weblog

Di Penghujung Nafas

Ditulis oleh Zamaahsari A. Ramzah di/pada Juli 5, 2008

Di Penghujung Hafas

Oleh: Umi Suciati

  

Aku, menemukannya di suatu peristiwa yang memaksanya untuk bertahan hidup. Ia terjatuh tepat dipangkuanku. Matanya sendu, akibat teracuni minuman keras dan narkoba di masa lalunya. Tak ada kebeningan di matanya. Aku merangkulnya, memapahnya dengan sekeras energiku. Tidak lama kemudian ia tertidur pulas, melupakan semua derita hidupnya saat itu. Dia bernama Jati.

Di suatu pagi yang ceria, ku temui ia di sebuah taman. Tiba-tiba ia mencengkeram tanganku, “Tolong, jangan pergi!” Ia menggenggam keras tanganku.

“Aku tidak ke mana-mana.” Sembari ku letakkan telapak tanganku di atas punggung tangannya. Bagaimana bisa aku meninggalkannya, harapan hidupnya cuma tinggal seonggok. Nyawanya terus dirong-rong oleh penyakit yang dideritanya. Aduh! Kasihan sekali dia. Kejadian dua tahun yang lalu menutup gelap matanya dan menyeretnya masuk ke dalam dunia malam yang penuh dengan gemerlap dan kesenangan sesaat. Dua tahun yang lalu, ia mencintai wanita anggun, anak seorang pejabat di kotanya. Sayangnya, hubungan itu tidak direstui oleh kedua belah pihak keluarga. Ia di usir. Dan jadilah ia manusia yang bringas.

Jujur, selain dia mencintaiku, aku juga mencintainya, tidak tahu mengapa dan bagaimana, pertemuan singkat itu menyatukan kami dalam tempat yang disebut cinta. Sayangnya perasaan ini tidak bisa diteruskan saat ku tahu aku mencintai seorang Katolik. Bukan karena aku membenci agama itu tapi agamaku tidak membolehkan kami menikah. Aku mencoba memberi pengertian kepadanya, tapi saying ia semakin terjatuh.

“Tolong, siapa pun kamu dan apa pun dirimu dimataku, jangan tinggalkan aku!, aku mohon!” Ia membisikkan kata-kata seperti itu dengan mendesah.

Sungguh, bagaimana aku sanggup mendengar ini semua. Aku juga tersiksa dengan perasaan ini. Aku seorang muslim yang sangat menjunjung tinggi keyakinanku, begitu juga dia seorang katolik yang taat terhadap agamanya. Aku berlatar belakang keluarga religius, begitu juga dengannya.

Hari ini, aku baru saja mengantarnya ke rumah sakit untuk cuci darah. Selain itu dokter juga memeriksanya. Dia divonis kanker hati tahap kritis!. Sayang, waktunya tidak banyak lagi. Kutemui dia berbaring lelah. Sambil berlinang-linang aku menatap bibirnya yang pucat. Tapi tidak lama kemudian ia terbangun.

“Ada apa sayang?” Ia memegang pergelangan tanganku, “Jangan bilang kalau sakitku sudah kritis, karena aku tidak mau mati karena penyakit ini.”

“Besok kita pulang ke rumah papah ya.”

“Gak mungkin.”

“Demi aku!”

Matanya sendu menatapku. Ia mengangguk.

Tanpa fakir panjang lagi, esok harinya aku mengantarnya pulang ke Palembang, ke tempat kediaman orang tuanya.

Dengan mengendarai bus ekonomi kami meluncur ke Palembang. Perjalanan sangat melelahkan. Semoga saja ia diterima dengan baik oleh orang tuanya.

Setibanya di palembang, kami masih harus menempuh perjalanan setengan jam menuju kota kabupaten. Dan tiba lah kami di halaman rumah mewah, dan rumah ini terlihat yang paling mewah di antara yang lain. Yah, dia dibesarkan dari keluarga mapan dan terhormat.

Dengan pelan-pelan aku mengetuk pintu rumah mewah tersebut dengan penuh keyakinan.

“Permisi.”

Lirih-lirih ku dengar suara langkah seseorang ke arah pintu. Dia seorang yang sangat anggun dan cantik.

“Jati…?”

Raut mukanya berubah saat melihat sosok anaknya yang menghilang selama dua tahun berdiri di hadapannya.

“Mah…”

“Mah, Jati boleh masuk kan.”

Suasana menjadi haru biru. Seorang anak dan ibu saling berpelukan dengan hangatnya. Aku hanya menyaksikannya dengan penuh keharuan. Dan saat itu juga papahnya datang dan dengan serta merta ikut hanyut dalam keharuan saat itu. Sungguh, indahnya pertemuan, dan sungguh menyakitkan perpisahan.

“Kami semuanya memaafkan nak, dan mamah yakin kamu bersama bidadari yang baik hati mau menerima kamu apa adanya.”

“Ya mah, Jati benar-benar beruntung punya kalian semuanya.”

Malam itu aku menginap di rumah tersebut. Tapi, lelapnya malam berubah menjadi suram dan menakutkan. Malam itu, sekitar jam 00.00 seisi rumah dikejutkan oleh jeritan yang berasal dari kamar Jati. Ia meraung kesakitan. Dan kami segera menuju kamarnya.

“Mah, sakit mah!, dada Jati sakit mah!” pekikannya menembus hening malam ini. Kami hanya bisa menangis melihat kondisinya.

“Iya nak, mamah mau telpon dokter sekarang ya!”

“Nggak mah, jangan!, kalian semua jangan pergi ke mana-mana dulu.”

“Tenang ya nak!” ucapannya sudah mulai berat, sambil memegang keras dadanya.

“Tolong mah, jangan telpon dokter, Jati nggak mau nyusahin kalian lagi, Jati senang kita bisa kumpul lagi. Mah, pah, Jati sayang banget sama kalian. Dinda, aku sayang kamu. Trima kasih udah mau terima kekuranganku. Dinda, janji ya kamu tetep nyayangin keluarga aku! Walaupun kita beda agama.”

“Dari dulu aku juga tetep sayang sama keluarga kamu.”

“Mah, pah, din, aku sudah nggak tahan lagi nahan sakit ini, sakit banget, tuhan terlalu sakit mencabut nyawaku.” Kami yang melihatnya hanya bisa menangis, sesekali mamahnya memeluknya, menciumnya. Dan aku memeluk erat tubuh mamahnya. Sungguh, betapa terpukulnya mereka.

“Mah, pah, din, peluk aku! Sekarang!”

“Iya sayang.”

Mungkin sudah saatnya kami merelakannya sekarang.

“Ikhlaskan Jati ya!”

Dalam hitungan lima detik, jantungnya sudah tidak berdetak. Kami semakin erat memeluknya. Ia tak kembali lagi.

Pagi ini, gerimis mengguyur kota palembang. Hari ini kami menunggu hujan reda. Satu jam lagi akan diadakan upacara pemakaman. Rumah ini telah dipenuhi oleh para pelayat sejak tadi subuh. Aku masih terpaku di pojok kamar, seolah belum bisa merelakan kepergiannya.

Dari balik pintu aku mendengar namaku dipanggil, “Dinda…hujannya udah reda, ayo kita berangkat.”

“Iya mah.” Cepat-cepat aku menghapus air mata yang sejak tadi membanjiri mataku.

“Dinda, kamu baik sekali. Bahkan kamu bisa menggantikan Jati di rumah ini,” ia memelukku.

“Dinda juga sama mamah.”

Kami berjalan beriring iringan. Pemakaman cukup jauh dari rumah itu. Jalanan basah.

Sekarang Jati telah pergi. Tidak tahu di mana tuhan menempatkannya. Tapi aku berharap tuhan akan menempatkan ia di tempat yang paling adil untuknya. Amin…

Selamat jalan Jati. Aku merindukanmu. Dan kami semua merindukanmu.

Jogjakarta, 01 Mei 2008

Satu Tanggapan ke “Di Penghujung Nafas”

  1. HILMAN berkata

    ini karya yang luar biasa…zam-zam, tulisan ini memang masih suci…raihlah kasih sucinya…

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>