Rencana AS Serang Iran
Ditulis oleh Zamaahsari A. Ramzah di/pada Juli 6, 2008
Serangan ke Iran
KOMPAS, Minggu, 6 Juli 2008
Arogansi Bush Tetap Lebih Bicara ketimbang Logika
Musthafa Abd Rahman dan Simon Saragih
Ali Larijani, penasihat politik pemimpin spiritual Iran, Ali Khameni, seperti dikutip harian Asharq Al Awsat, Jumat (4/6), mengatakan, konflik Iran-Barat, khususnya AS, bisa diatasi dengan menganut prinsip egaliter. Akan tetapi, Presiden AS George W Bush tetap menyatakan opsi serangan militer ke Iran tidak dikesampingkan.
Pada Selasa lalu, Ali Akbar Velayati, penasihat urusan luar negeri Ali Khameni, mengungkapkan, Iran bersedia berunding soal paket kompensasi yang ditawarkan Barat untuk penghentian program nuklir Iran. Namun, ada gerakan oknum yang tidak menginginkan tercapainya kesepakatan apa pun antara Iran dan Barat.
Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran Said Jalili juga mengatakan, titik temu antara usulan Iran dan Barat bisa dijadikan awal baru kerja sama yang saling konstruktif.
Menurut Said, Iran memandang positif paket tawaran kompensasi komprehensif meliputi ekonomi, energi, dan keamanan dengan tujuan menyebarkan perdamaian dan stabilitas di kawasan ini.
Ketua Komisi Luar Negeri Uni Eropa Javier Solana, pertengahan Juni lalu, mengunjungi Teheran dan menyampaikan tawaran kompensasi baru dengan imbalan penghentian proses pengayaan uranium pada instalasi nuklir Iran.
Larijani, juga mantan ketua tim perunding Iran dengan Barat soal program nuklir, mengatakan, ”AS bisa mengubah peta kondisi kawasan Timur Tengah jika bersedia mengubah pola pikir yang selama ini keliru.”
”Jalan menuju solusi bukan dengan cara menganut kebijakan main tongkat dan gertak. Cara itu sudah usang. Barat harus memahami benar tentang kawasan ini,” kata Larijani yang diperkirakan akan menjadi pesaing kuat Presiden Ahmadinejad dalam pemilu presiden Iran tahun depan.
Larijani menambahkan, AS bisa menggunakan jalur dialog hakiki, bukan dialog simbolis, untuk mencapai kompromi. ”Pijakan dialog itu harus disepakati, demikian pula tujuan dan butir-butir kesepakatan yang hendak dicapai,” lanjutnya.
Iran tidak ingin terjadi kezaliman di kawasan ini, baik terhadap Iran maupun negara lain. Jika AS dan Barat tetap tidak mengubah kebijakannya, kezaliman terhadap Iran akan terjadi. Namun, hal itu hanya akan merugikan kepentingan dunia, dan Barat di kawasan.
Problemnya, lanjut Larijani, Barat selama ini ingin solusi dan rekonsiliasi yang merugikan kepentingan Iran. ”Hal yang dibutuhkan sekarang adalah semua pihak harus saling menjaga dan memerhatikan kepentingan satu sama lain di kawasan.”
”Jika prinsip itu yang dianut, akan ada manfaat pada semua pihak dan peta kondisi kawasan ini akan berubah menuju stabil,” kata Larijani.
Ia menegaskan lagi, dunia Barat tak akan bisa menyelesaikan masalahnya dengan Iran selama mereka menganut pola konfrontasi. Larijani mengimbau dunia Barat menerima dan mengakui realitas baru di kawasan ini dengan kepemilikan Iran terhadap teknologi dan tenaga nuklir yang bertujuan damai.
Ia melanjutkan, Iran terus bersedia menggelar perundingan dan dialog soal isu nuklirnya. Ia memperingatkan dunia Barat jika tidak memilih jalan perundingan, karena akan mengancam kepentingan semua pihak di kawasan ini.
Berkelit lagi
Namun, apa daya, kekuatan menjadi lebih berbicara ketimbang nurani. Ironisnya, tak ada perlawanan, atau pembelaan, dari negara mana pun terhadap Iran, yang ”lemah”. Rabu (2/7) lalu, di Washington, Presiden AS George Bush mengatakan, ”Opsi militer tetap terbuka atas sengketa mengenai nuklir Iran.”
Bush kembali berkelit. ”Saya selalu mengatakan, diplomasi adalah pilihan pertama. Namun, opsi militer tetap tersedia di meja.” Inilah ucapan dari seorang presiden adidaya yang tidak bertanggung jawab dan memalukan.
Pada saat dunia sedang galau soal pemanasan global, kenaikan harga pangan, dan krisis minyak, AS dan Israel mementingkan ego dan lebih mempertontonkan otot dan kekuasaan.
Dampak dari ucapan pejabat AS dan Israel soal serangan ke Iran telah memanaskan suhu geopolitik. Hal ini kembali menaikkan harga minyak dunia, ke angka di atas 145 dollar AS.
Admiral Mike Mullen, Ketua Staf Gabungan Militer AS, di Washington, Kamis (3/7), menegaskan, ”Kawasan ini adalah kawasan yang paling tidak stabil di dunia. Saya tidak ingin kawasan ini menjadi tak lebih stabil dari sekarang.”
Militer AS sudah cukup berat menghadapi perang di dua front, Irak dan Afganistan. ”Sudah berlangsung tujuh tahun perang di Afganistan dan lima tahun di Irak. Membuka front ketiga akan memberi tekanan lebih berat pada kami,” kata Mullen.
Jika konflik dimulai, Iran masih punya kemampuan mengacau lalu lintas di Selat Hormuz, salah satu lalu lintas utama energi minyak dunia.
Profil militer
Kantor berita Reuters mengutip ”Military Balance 2008” yang dikeluarkan Jane’s Defence Weekly soal kekuatan militer Iran. Disebutkan, Iran memiliki 545.000 tentara. Negara ini memiliki sekitar 1.700 tank, terutama buatan Inggris, Chieftains, dan buatan AS, M-60s, walau sudah tergolong usang. Juga ada tank buatan Uni Soviet merek T-54 dan T-55s, T-59s, T-62s, serta T-72s.
International Institute for Strategic Studies (AS) mengatakan kekuatan persenjataan Iran itu diragukan.
Namun, Iran juga memiliki 640 mobil pengangkut militer yang dipersenjatai. Iran juga memiliki rudal Shahab-3 yang bisa menjangkau wilayah seluas 2.000 kilometer persegi dan mampu mengenai sasaran militer di Israel dan pangkalan militer AS di kawasan.
Iran pun punya rudal Ghadr-1, yang bisa menjangkau sasaran sejauh 1.800 kilometer.
Kekuatan Angkatan Laut Iran juga memiliki 18.000 personel dan tiga kapal selam nuklir buatan Rusia. Kekuatan militer AL Iran ini diragukan karena sudah berusia tua.
Akan tetapi, Iran juga punya sebuah kapal selam baru buatan lokal bernama Jamaran serta 281 pesawat tempur, termasuk F-14 dan MiG 29, Sukhoi seri Su-24s dan seri 25s.
Tak tergantikan
Lebih penting dari itu, Iran punya kemampuan memproduksi minyak. Menurut Sekjen OPEC Abdallah el-Badri, posisi Iran sebagai penghasil 4,2 juta barrel minyak per hari tidak akan tergantikan jika serangan ke negara ini dilakukan. ”Harga minyak sudah pasti akan naik ke angka lebih tinggi lagi,” katanya.
Berdasarkan jajak pendapat terbaru, kini sekitar 90 persen warga AS sudah merasakan beban berat akibat kenaikan harga minyak. Uni Eropa, Australia, India, dan berbagai negara lain sudah dilanda protes karena kenaikan harga minyak. Akankah keadaan dibuat makin buruk dengan serangan ke Iran, hanya karena isu nuklir Iran?
Iran sudah berkali-kali menegaskan, program nuklir semata-mata bertujuan damai, terutama untuk pengadaan energi sehubungan dengan konsumsi minyak domestik yang meningkat.
Rasanya, AS lebih baik memiliki presiden yang lebih waras. Semoga Barack Obama, yang memiliki diplomasi, terpilih, dan semoga era Bush-Cheney (Wapres Dick Cheney) enyah dari muka bumi. Damai itu indah!