Tanggung Jawab Pemuda dalam Zaman
Ditulis oleh Zamaahsari A. Ramzah di/pada November 12, 2008
Tanggung Jawab Pemuda dalam Zaman
Oleh Zamaahsari A. Ramzah
“Perdabatan suatu bangsa akan menuai ajal bila tindakan generasi mudanya yang keterlaluan diperbolehkan berlanjut.”
(Louer)
PEMUDA mengukir sejarah manis dalam perjalanan panjang republik ini. Kiprahnya menjadi kompas perubahan. Sejak, sebelum dan sesudah bangsa ini merdeka, pemuda selalu aktif di dalamnya. Hampir tak ada satu pun proses perubahan politik di negeri ini yang absen dari keterlibatannya.
Lahirnya Boedi Oetomo 20 Mei 1908, sebagai spirit lahirnya pergerakan nasional untuk menentang praktik penindasan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang sekian abad lamanya dipraktikkan oleh penjajah asing terhadap bangsa pribumi, pelopornya adalah pemuda.
Pada saat itu, sekelompok pemuda yang dimotori oleh Soetomo, Guoenawan Mangoenkoesomo, dan Suryadi Suryaningrat, melakukan serangkaian pertemuan dan diskusi panjang di STOVIS untuk menyikapi secara serius nasib pribumi yang tertinggal dalam hal pendidikan, perekonomian, sosial budaya, kemiskinan dan keterbelakangan.
Hasil dari pertemuan itu, mereka bersepakat untuk mendirikan sebuah organisasi yang bisa menyatukan semua komponen, lintas status sosial, lintas profesi dan jabatan, serta lintas etnis. Mereka meyakini bahwa untuk merubah ketertinggalan dan keterbelakangan yang dialami bangsa pribumi itu tidak bisa disandarkan semata-mata pada belas kasihan orang lain (penjajah), tetapi oleh bangsa kita sendiri.
Sejak saat itulah, kesadaran berbangsa dan bernegara untuk menentang penjajahan asing demi menentukan nasib sendiri menatap kehidupan yang lebih baik mulai bergelora disanubari bangsa Indonesia. Bahwa pratik penindasan, kesewenang-wenangan dan ketidakadilan harus dihapuskan dari bumi pertiwi. Kedaualatan sebagai bangsa itulah yang diperjuangakan oleh Boedi Oetomo.
Sumpah Pemuda yang menjadi momentum lahirnya kesadaran tentang persatuan dan kesatuan bangsa, pelopornya adalah pemuda. Kondisi bangsa yang carut marut, persatuan yang tercerai berai akibat pendudukan dan penaajahan asing, menjadi keprihatinan sendiri bagi pemuda saat itu.
Kondisi bangsa yang sangat memprihatinkan itulah yang membangkitkan semangat pemuda untuk melakukan Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928. Kongres itu melahirkan nilai penting bagi lahirnya persatuan dan kesatuan bangsa dengan sebuah ikrar bersama: berbangsa satu bangsa Indonesia, bertanah air satu tanah air Indonesia dan berbahasa satu bahasa Indonesia.
Kemerdekaan republik ini yang diproklamasikan Soekarno pada 17 Agustus 1945 juga tidak lepas dari peran pemuda. Tiga hari setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Herosima dan Nagasaki dalam Perang Teluk sekaligus sebagai penanda kekalahan Jepang, pemuda menculik Soekarno di Rengasdengklok untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Peristiwa 1966 sebagai proses pergantian pucuk pimpinan nasional dari Soekarno ke Soeharto, terlepas dari kontroversi di seputar peristiwa itu, harus diakui bahwa pemuda punya andil besar. Kondisi sosial politik yang carut marut, krisis ekonomi, ancaman komunis, destabilisasi pemerintahan, menyulut gerakan-gerakan anti-Soekarno.
Peristiwa heroik 1998 yang mungkin masih kita ingat hingga kini adalah turunya Soeharto. Kepemimpinan Soeharto yang didukung penuh oleh kekuatan militer, birokrasi dan Golkar hingga berkuasa selama 32 tahhun, mampu ditumbangkan oleh gerakan mahasiswa. Aktor dari gerakan reformasi itu adalah pemuda (mahasiswa).
Hampir setiap hari mahasiswa melakukan serangkain demontrasi untuk menentang Soeharto. Mereka tidak pantang menyerah meski dihalau oleh gas air mata dan tembakan militer. Hingga akhirnya empat dari mereka tewas tertembak, sebagian yang lain hilang dan luka-luka.
Peristiwa ini menjadi penting bukan saja pada aspek lengsernya Soeharto itu, tetapi pada aspek politik dan implikasi berikutnya. Rakyat yang semula hidup dalam bayang-bayang sistem represif-otoritarianisme dalam waktu singkat bisa menghirup udara segar demokrasi.
Pers yang semula dikontrol secara ketat menjadi bebas, pemilu dilangsungkan (lebih) transapran, fair, jujur dan adil. Presiden dan wakil presiden, wakil rakyat, gubernur, bupati/walikota dipilih langsung oleh rakyat. Mengemukakan pendapat di muka umum dilindungi oleh hukum. Sistem politik tidak lagi sentralistik.
Cacatan sejarah di atas lebih dari cukup untuk membuktikan betapa pemuda punya peran penting di republik ini. Boleh dibilang, pemudalah yang mengantarkan negeri ini menuju perubahan yang kini kita nikmati bersama. Mungkin karena alasan itulah mengapa Louer, mengutip sebuah naskah kuno berpendapat, perdabatan suatu bangsa akan menuai ajal bila tindakan generasi mudanya yang keterlaluan diperbolehkan berlanjut.
Hingga detik ini eksistensi pemuda masih sangat diperhitungkan. Posisinya sebagai gerakan middle class yang berbasis pada nilai dan moral, selalu dirindukan dan dinanti oleh masyarakat. Mereka tidak memiliki batasan struktur dalam mengusung idealisme, apa yang diperjuangkan murni demi kepentingan rakyat.
Di negara lain pun pemuda punya andil besar dalam proses perubahan. Penggulingan presiden Argentina, Juan Peron (1955), presiden Venezuela, Perez Jimenez (1958), presiden Pakistan, Ayub Khan (1969), presiden Iran, Reza Pahlevi (1979), presiden Philipinan, Ferdinand Marcos (1986), presiden Korea Selatan, Chun Doo Hwan (1987) adalah beberapa contoh.
Di abad modern ini, pemuda kian menunjukkan perannya. Dari yang menjadi penggerak sebuah perusahan berskala besar, menjadi pemimpin di sebuah universitas ternama, pemimpin partai politik sampai yang menjadi pemimpin puncak di suatu negara. Tidak hanya di negara lain, di Indonesia pun kiprah kepeloporan pemuda kian menunjukkan taringnya.
Sebagai contoh, Anis Baswedan menjadi rektor Universitas Paramadina dalam usia 39 tahun. Presiden Rusia Vladimir Medvedez menjadi presiden dalam usia 42 tahun. Barack Obama menjadi presiden di Amerika Serikat dalam usia 47 tahun. Obama adalah presiden pertama dari kalangan kulit putih yang dimiliki AS sejak merdeka tahun 1776.
Kemenangan Obama tidak semata-mata dilihat dari aspek penerimaan terhadap perbedaan ras dan warna kulit, karena kenyataannya hingga kini rasialisme di AS masih menguat, tetapi lebih didasarkan pada sosok Obama yang masih muda, cerdas dan menawarkan harapan perubahan dalam setiap kampanyenya.
Kemenangan Obama harus menjadi inspirasi bagi bangsa kita yang sebentar lagi akan melangsungkan pemilu. Sudah saatnya pemuda muncul atau dimunculkan sekaligus diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk menjadi pemimpin di negeri ini.
Saat ini wacana kepemimpinan pemuda memang gencar dihembuskan seiring dengan momentum seabad Kebangkitan Nasional, delapan puluh tahun Sumpah Pemuda dan sepuluh tahun Reformasi. Namun, belum dibarengi adanya realisasi nyata atas spirit kepemimpin pemuda tersebut.
Di tengah leletnya arah perubahan, kiat carut-marutnya kondisi bangsa, tidak menentunya arah sosial politik, ancaman disintegrasi, dan ancaman krisis ekonomi global, munculnya pemimpin muda, yang visioner dan punya semangat perubahan tinggi sangat dibutuhkan.
Di akui atau tidak reformasi yang kita jalani selama sepuluh tahun ini belum berjalan seperti yang diharapkan. Harga-harga kebutuhan pokok terus naik, kemiskinan dan pengangguran makin meningkat. Para elit yang berkuasa hanya bisa mempertebal kantong pribadi, jauh dari derita rakyat. Di saat rakyat butuh diperjuangkan nasibnya, para elit kita justru merampok uang rakyat.
Fenomena ini menguat dan bahkan membudaya justru ketika negeri ini sedang berupaya menjalankan prinsip-prinsip good governance, akuntabilitas dan transaparansi publik bagi para pejabat negara. Mereka lupa bahwa tugas yang diembannya itu untuk didedikasikan pada rakyat.
Korupsi, kolusi, dan nepotisme seolah tidak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan elit. Hampir setiap hari media memberitakan tentang praktik korupsi yang dilakukan para elit. Praktif KKN ini seperti jaring laba-laba yang sulit diurai mata rantainya.
Makin genjar dan canggih teknologi yang dimiliki KPK untuk mengungkap pelaku kejahatan korupsi, makin gencar dan pandai pula para pejabat pelakukan praktik korupsi. Perbuatan abuse of power itu tidak saja dilakukan di lingkarang eksekutif, legislatif dan yudikatif, tetapi juga di lembaga-lembaga swasta, seperti BUMN dan sebagainya.
Kepemimpinan pemuda diharapkan mampu menjadi peretas kebuntuan perubahan yang dialami oleh bangsa kita. Memang belum ada jaminan bahwa kepemimpinan pemuda bisa mengatasi berbagai problem di atas. Namun, setidaknya ada starting point yang dimiliki, yakni landasan idealisme. Landasan idealisme ini yang bisa dijadikan sandaran untuk mengawal perubahan yang kita harapkan.
Karena itu pemilu 2009 adalah momentum penting bagi pemuda untuk maju dalam proses-proses politik yang demokratis, baik di legislatif maupun eksekutif. Ruang-ruang strategis itu harus diisi oleh pemuda yang visioner dan punya komitmen terhadap perubahan.
Tanggung jawab pemuda tidak hanya sebatas pada wacana perubahan semata, tetapi lebih dari itu adalah spirit untuk membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik. Itu harus dibuktikan dengan peran-peran strategis yang lebih riil dalam kehidupan di masyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan negara adalah lebih penting dari kepentingan pribadi. Itulah semangat yang dulu pernah digelorakan oleh pemuda semasa masa perjuangan.
Kini, di tengah liberalisasi politik dan demokrasi saat ini, bukan zamannya lagi pemuda bermain di wilayah ekstra parlementer. Meski hal itu masih dibutuhkan, tetapi akan lebih efektif jika pemuda bermain di lingkaran sistem. Caranya adalah dengan berupaya merebut pos-pos penting di birokrasi pemerintah, baik pusat maupun daerah.
Pemuda harus mampu membalikkan maindset masyarakat yang sudah terpatri selama ini bahwa wilayah politik bukan ranah kotor, penuh polusi, saling sikut, dan menghalalkan segala cara. Wilayah politik adalah ranah yang elok, ramah bagi siapa pun, dan sangat kondusif bagi lahirnya produk-produk hukum yang berpihak pada rakyat.
Kita berharap andil pemuda yang telah digoreskan dalam titah emas lembaran sejarah bangsa ini bukan cuma sebatas romantisme, tetapi betul-betul berlanjut dalam episode sejarah berikutnya.
Zamaahsari A. Ramzah
Penulis adalah peneliti di The Nationalism Institute Jakarta
yamin berkata
Permisi, numpang lewat. Bagaimana kabar? Sudah lama gak kelihatan di media?
Hendra Sugiantoro berkata
Tulisan dimuat di media mana tidak dicantumin, Pak?